Jam makan yang sama seperti biasanya. Datar.
Hanya duduk di tempat favorit ku, bersama laptop dan makan siang ku, tepat di kursi paling pojok.
Semenjak kerja magang di kantor swasta selama 4 bulan, cafe ini juga menjadi saksi bisu apa saja yang ku lakukan setiap makan siang. Beberapa pegawai tetap di tempat makan ini juga sudah cukup akrab dengan ku, hafal dengan selera ku. Bahkan sudah paham untuk menyediakan tempat kosong bila ini jam makan siang ku. Ya, tempat yang cukup nyaman untuk menghabiskan waktu makan siang, sendirian. Wi-fi yang gratis, tempat charge, semuanya membuatku hampir lupa waktu. Kadang pegawai yang sudah mengenal ku tidak segan untuk menegur bahwa waktu makan siang ku sudah habis. Mereka pegawai yang baik, untuk diriku pribadi. Banyak semua hal yang aku lihat dan tonton gratis dari tempat ini. Dari pengunjung yang kelupaan membawa dompet, pengunjung yang lebih banyak bergosip daripada memesan makanan, sampai drama kisah cinta yang tidak ada habisnya. Semuanya lengkap di tempat makan ini. Oh ya jangan lupa dengan lonceng di atas pintunya. Aku sangat menyukainya. Entah apa hanya aku yang menyukai lonceng yang berbunyi saat pintu itu terbuka.
Kamis, 11:25 siang.
Tempat ini ramai seperti biasanya, suara pegawai cafe yang sibuk mengurusi semua pesanan, omelan beberapa pengunjung yang tidak sabaran, dan juga suara lonceng yang bergoyang otomatis ketika pengunjung membuka pintu masuk. Semuanya berkumpul menjadi satu.
Aku fokus pada layar laptop dan jari-jariku yang terus menari di atas keyboard.
“Kopi hangatnya satu, tambah gulanya sedikit ya, mbak.”
“Baiklah, ada pesanan lain ?”
“Ga mbak, itu aja.”
Suara seorang pembeli yang kali ini tampak berbeda. Suara yang tidak lewat begitu saja tapi melekat beberapa saat, lalu pergi, tapi meninggalkan bekas. Bekas yang membuat penasaran. Lanjut membaca
Segelas kopi di angkringan menemani malam ku yang dingin dan berangin.
Hujan.
Hooooyyyyyy.
Halooooo.